Sabtu, 28 April 2012

Nasyid penggugah jiwa

Assalamu'alaikum sahabat-sahabat..

Buat para pemuda, para aktivis dakwah kampus, dan masyarakat pada umumnya yang bingung mencari lagu nasyid yg enak didengar silakan unduh sendiri nasyid yg saya rekomendasikan di bawah ini,  :

  •  Sigma - Istikharah Cinta
  • Nazrey Johani -Wahai Kekasih (Kaulah Segalanya)
  • Nazrey Johani - Air Mata Keinsafan
  • Nazrey Johani - Mengemis Kasih
  • Nazrey Johani - Harapan pada-Mu Subur Kembali
  • Nazrey Johani - Secerah Pewana
  • Ahmed Al-Haajiri - Ya Hamilal Qur'an
  • Edcoustic - Sebiru Hari Ini
  • Opick - Rapuh
  • Sami Yusuf - My Ummah
Dengarinnya jangan terlalu sering, sekali-sekali saja, direkomendasikan agar Lebih dominan Al- Quran ya.. :)

Jumat, 30 September 2011

Akses MQ FM streaming


    Untuk mengakses streaming MQFM Bandung alhamdulilah bisa didengar langsung di winamp anda silahkan copy paste url di bawah ini :
    di winamp player anda http://125.160.17.21:8200/listen pls 
    untuk format AAC http://125.160.17.86:8022/listen.pls 
    untuk format mp3 Apabila link di atas tidak bisa diakses silahkan akses alamat http://srv.goesti.com:8107/listen.pls dengan format AAC 
    Untuk Anda pengguna fleksi ketik *55*311027 
    Pengguna Blackberry silahkan download nux radio, klik Jawa Barat dan klik MQ FM 
    Dapatkan juga pesan Tauhid melalui twitter follow @aagym


Senin, 05 September 2011

Indahnya Silaturahmi


Mahabesar Allah dengan sifat rahman dan rahim-Nya, telah melimpahkan kasih sayangnya kepada kita, juga telah menganjurkan kita untuk berbagi kasih terhadap mahluk-mahluk-Nya. Indahnya kasih sayang akan tercermin dari silaturahmi yang baik. Persaudaraan yang terputus pun akan terjalin kembali melalui silaturahmi. Sungguh keindahan akan diperoleh bagi orang yang mau menjaganya.
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perilaku Rasulullah, di antaranya anjuran bersilaturahmi. Beliau senantiasa menyempatkan waktu untuk mengunjungi saudara-saudaranya, baik kepada sahabat dekat, orang yang baru dikenal, maupun orang yang sama sekali membencinya. Setiap ada kesempatan beliau pun senantiasa mengunjungi ummatnya yang miskin sambil membawa makanan untuk dibagikan. Sehingga mereka senantiasa menyambut kedatangan rosul. Di sela istirahat pun beliau senantiasa memberikan tauhiyah kepada sahabat-sahabatnya anjuran untuk mengikatkan tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskannya, memberikan hadiah kepada orang yang tidak pernah memberi sesuatu kepadanya, dan anjuran untuk bersabar menghadapi orang yang telah menghinakannya.
Dengan demikian, betapa pentingnya konsep silaturahmi yang dicontohkan Rosul. Dengan kasih sayang yang tersambung kepada mahluk-mahluk Allah, maka kasih sayang Allah pun akan bersama kita. Dia akan menyayangi kita. Dengan sendirinya banyak pula manfaat yang bisa kita ambil. Selain mempererat tali persaudaraan, menambah wawasan, juga memperkokoh ikatan ukhuwah. Dan, akhirnya kita tergolong orang yang beruntung yang telah Allah janjikan kebahagiaan dunia dan akhirat. Saudaraku, kebahagiaan tersebut tentunya diperoleh karena keikhlasan dalam melakukannya. Bukan karena mengharapkan imbalan dari mahluk-mahluk, bukan karena berharap pujian dan penghargaan, juga bukan karena mengharapkan mereka agar menyambungkan tali silaturahmi sebagaimana yang telah kita lakukan, sama sekali bukan. Melainkan semua kita lakukan semata-mata agar disayangi Allah SWT.
Mahabenar Allah dalam firman-Nya ,,“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu". (QS. An-Nissa [4]: 1). Saudaraku, dengan ketulusan ukhuwah yang kita jalin, semoga kita digolongkan menjadi orang yang beruntung, yang pantas mendapatkan rahman dan rahim-Nya. Amiin

- KH. Abdullah Gymnastiar -

Kamis, 15 Juli 2010

Dunia itu hanyalah sementara

Peringatan dari Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau dilalaikan oleh harta dan anak-anakmu untuk berdzikir kepada Allah”
(QS. Al Munafiqun: 9)

“Dunia ini terlaknat dan isinya penterlaknat pula, kecuali yang berdzikir kepada Allah serta mengikuti dzikir tadi, juga orang yang berilmu agama serta orang yang menuntut ilmu agama tadi terbebas dari laknat”
(HR Turmidzi)

Ambillah pengertian dari ayat dan hadist di atas, yang berarti kita telah memperoleh pengertian-pengertian terdalam dari ayat-ayat Allah dalam kitab suci Al Qur’an. Mendalami sampai mencapai titik cinta kepada-Nya. Dengan perasaan cinta pada-Nya, paling tidak, kita telah menghindarkan diri dari cinta dunia secara berlebihan, sehingga dengan demikian kita akan terlindungi dari pengaruh dan godaan dunia yang berlebihan.

Hanya orang-orang yang cinta kepada Allah sajalah yang dapat menghindarkan dirinya dari pengaruh dunia secara berlebihan. Hal ini tidak berarti kita tidak boleh memiliki kekayaan. Bukan demikian maksudnya.. tetapi kita hendaknya waspada terhadap kekayaan yang kita miliki, jangan sampai kekayaan itu justru akan membawa bencana bagi kehidupan kita di akhirat nanti. Setiap individu tentu sadar bahwa dirinya sangat membutuhkan kekayaan duniawi, namun harus disadari bahwa kebutuhan yang amat berlebihan itu sangatlah berbahaya, karena dia adalah musuh yang akan menjerumuskan pemiliknya ke dalam neraka. Oleh karena itu hendaklah waspada dengan kewaspadaan penuh agar jangan sampai tertipu olehnya (dunia).

Menurut kebiasaannya, musuh kita itu (dunia) akan mengambil berbagai bentuk tipuan antara lain:
- Berpura-pura akan tetap bersama kita, namun kenyataannya perlahan-lahan akan menyingkir dan meninggalkan kita serta menyampaikan salam perpisahan. Seperti halnya bayangan yang tampaknya tetap, ternyata selalu saja bergerak meninggalkan kita yang sedang memperhatikan bayangan.
- Dibalik kedok wajah nenek sihir yang berseri-seri, berpura-pura cinta kepada kita, namun akhirnya berbelok menjadi musuh bagi kita, meninggalkan kita dalam keadaan mati merana, karena tak dapat melepaskan diri dari derita siksa neraka yang amat pedih. Akibat cinta kita padanya secara berlebihan sampai melupakan bakti kepada Allah.
Nenek sihir ini pernah ditanya oleh Nabi Isa as : “berapa suamimu?”, jawabnya: “tak terhitung”, ditanya lagi: “mereka telah mati atau kamu ceraikan?”, jawabnya: “mereka kami penggal semuanya”.
Rasulullah saw pernah bersabda tentang nenek sihir ini: “Di hari pengadilan, dunia (bukan bumi) ini dalam bentuk nenek sihir yang seram wajahnya, matanya hijau, giginya bertonjolan. Orang-orang yang melihatnya berkata: ‘ampun siapa ini?’, jawab malaikat: ‘inilah dunia yang engkau jadikan ajang perebutan, peperangan, perkelahian, saling bunuh membunuh dan merusakkan kehidupan yang satu dengan yang lainnya’”. Selanjutnya Rasulullah saw berkata: “kemudian nenek itu dicampakkan ke dalam neraka sambil menjerit sekeras-kerasnya dan berkata: ‘dimana pecinta-pecintaku dahulu?’, kemudian Allah memerintahkan melemparkan manusia-manusia yang mencintainya ke dalam neraka bersama-sama”.

Renungkan sedalam-dalamnya nenek sihir yang diceritakan oleh Nabi saw tersebut, kebenarannya sudah pasti akan terjadi apabila kita pelaku pecinta dunia. Karena itu waspadalah tipu daya duniawi, karena bahayanya sangat besar, bahkan mampu membuat kita kufur dan sesat.

Untuk itu janganlah kita mencintai dunia ini secara berlebihan, tapi cintailah yang memberi dunia itu, karena kepada-Nya-lah kita akan kembali.
“Pada suatu hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna lagi kecuali bagi orang-orang yang menghadap kepada Allah dengan hati yang bersih dan didekatkan surga bagi mereka yang bertaqwa”
(QS. Asy Syu’ara: 88-90)

Al Qur’an memberikan indikasi bahwa tidaklah perlu kita berbangga-bangga dengan kekayaan dunia yang melimpah ruah, jika demikian indikasinya, maka ambillah sikap ke arah mana harta itu harus dibelanjakan disamping harus kita penuhi terlebih dahulu kebutuhan rumah tangga kita, demikian juga terhadap kebutuhan anak-anak kita termasuk sikap kita yang jelas dalam mendidiknya agar menjadi anak yang sholeh dan peningkatan iman yang telah ada dalam manifestasi ke-taqwa-annya.

Selanjutnya sikap bagi kita terus upayakan membersihkan hati bersamaan dengan kekayaan yang kita miliki. Kekayaan dapat kita bersihkan melalui pemenuhan kewajiban zakat dan shodaqoh-shodaqoh yang lain, bagi hati dapat dibersihkan dengan ber-dzikir serta bertasbih tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu melalui sarana sholat tahajud. Dengan sikap demikian secara otomatis kita akan memiliki pengertian terdalam tentang posisi dunia yang akan dihancurkan oleh Allah (bukan buminya yang dihancurkan). Bila kita sudah mencapai pengertian yang dalam tentang posisi dunia ini, maka alihkan perhatian kita ke arah bathin khususnya hati, yang selama ini disibukkan oleh kepentingan dunia melulu. Hati kita, kita bersihkan sedemikian rupa sampai mencapai qobun salim. Qolbun Salim adalah qolbu yang penuh kedamaian, suci dan bersih, menjadikan diri kita sebagai makhluk ciptaan yang dimuliakan oleh Allah sekaligus menjadi penduduk surga.

“dan didekatkan surga bagi orang-orang yang bertaqwa”
(QS. Asy Syu’ara: 90)

Dengan taqwa itu pula kita secara otomatis menjadikan harta dunia yang kita miliki menjadi kebun di akhirat dan tidak akan kita jadikan sebagai bahan bakar buat diri kita, dengan demikian kita telah diselamatkan oleh Allah. Untuk itu perbanyaklah rasa syukur kepada-Nya.

“Kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan belaka, karenanya jangan sampai kalian ditipu oleh kehidupan dunia”
(QS. Al Ankabut: 64. QS. Luqman: 33)


Jumat, 09 Juli 2010

SEDEKAH CINTA
































sumber foto : detik.com

Senin, 01 Maret 2010

Hubbudunya (Cinta Dunia)

Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak ada seorang pun yang berjalan di air kecuali tumitnya pasti basah. Demikian pula orang yang memiliki duniawi, ia tidak bisa selamat dari dosa-dosa.” (HR Baihaqi dari Anas).

Hadits di atas merupakan peringatan bagi kita bahwa dunia, seperti kekayaan/harta,keluarga atau, jabatan-yang kita miliki dan kuasai akan menjerumuskan kita kepada kehancuran dan dosa jika tidak pandai dalam menyikapinya. Bahkan, di hari kiamat kelak kekayaan yang tidak dikeluarkan zakat dan sedekahnya akan dikalungkan.

Perhatikan peringatan Allah dalam firman-Nya, ”Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 3: 180).

Paling tidak ada 3 hal yang harus kita lakukan agar tidak terlena oleh godaan dunia.

1. Sadari kehidupan dunia ini hanya sementara, dan kehidupan akhiratlah yang kekal.

Dalam kaitan ini Allah menerangkan, ”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS 57: 20).

2. Sadari semua yang kita miliki adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Kesadaran ini berdampak pada timbulnya sikap untuk selalu menjaga dan menunaikan hak-haknya dari apa yang kita miliki, seperti mengeluarkan zakat dan sedekahnya.Allah berfirman, ”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 9: 103).

3. Sederhanalah dalam kehidupan

Kesederhanaan mengajarkan kita untuk selalu dapat mensyukuri setiap karunia yang Allah berikan. Kesederhanaan pun mengajari kita untuk tidak serakah. Rasulullah menjelaskan keuntungan dari hidup sederhana dalam sabdanya, ”Barang siapa yang sederhana terhadap dunia, maka Allah mengajarkannya sesuatu yang tanpa belajar, dan memberinya petunjuk tanpa hidayah secara langsung dan telah menjadikannya melihat, dan Allah membukakan daripadanya kebutaan.” (HR Abu Na’im dari Ali).

tebarkan slm & jadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin

Wallahu a’lam bishawab.

silahkan kunjungi artikel* islamic semoga bermanfaat untuk antum sekalian

http://tarbiahmoeslim.wordpress.com/

Cahaya Itu Jangan Dibiarkan Meredup

Semut-semut kecil... saya mau tanya... apakah kamu didalam tanah... tidak kegelapan... ini adalah penggalan bait sebuah lagu anak-anak, namanye juga anak-anak iseng aje nanya-nanyain semut. Tapi ada benarnya juga bertanya, dengan bantuan apa koloni semut itu dalam beraktivitas di bawah rongga-rongga tanah? yang kita tahu pastinya disana memang gelap, tidak ada cahaya tembus menerangi. Karena dalam sudut pandang manusia dalam beraktivitas kita memerlukan cahaya dalam membantu mata kita dapat melihat.

Ketika siang kita dibantu cahaya mentari, ketika malam kita dibantu cahaya rembulan. Lain manusia lain juga dengan semut, Allah SWT menciptakan semut yang tinggalnya di dalam rongga-rongga tanah yang sarat dengan kegelapan tetapi semut masih bisa beraktivitas dalam kegelapannya itu. Itulah kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Karena sangat perlunya cahaya, akhirnya manusia berfikir bagaimana kalau cahaya matahari dan rembulan itu tidak bisa maksimal dalam membantu mata kita untuk melihat karena cahayanya terhalang atap atau sekat sebuah bangunan. Maka digunakanlah api untuk menerangi, dari dengan cara membuat obor, api unggun, lampu tempel sampai lilin khususnya untuk dimalam hari. Kemudian akhirnya biidznillah manusia menemukan bola lampu, yang sampai saat ini sangatlah berguna bagi kita untuk membantu beraktivitas dalam ruang yang terhalang dari cahaya sinar mentari dan rembulan.

Cahaya mentari, rembulan, obor, lampu tempel, lilin sampai bola lampu itu memang sangatlah diperlukan oleh kita manusia untuk membantu dalam menjalani aktivitas di dunia ini. Cobalah kita berjalan di dalam gelap, tentunya kita tidak akan bisa kecuali kita mendapati cahaya walaupun hanya sedikit. Bersyukurlah kita akan nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita, nikmat mata yang dapat melihat dan nikmat cahaya yang dapat menerangi.

Kita manusia memerlukan cahaya bukan hanya untuk berjalan ketika di dunia, tetapi kita juga amat sangatlah perlu cahaya untuk perjalanan kita menuju ke akhirat. Apa jadinya ketika dalam perjalanan kita menuju akhirat tempat kita hidup untuk selama-lamanya kelak, tidak ada cahaya yang menerangi. Pastinya kita tidak ingin kita tersesat dalam sepanjang perjalanannya, tersesat ke tempat dimana kita tidak menginginkannya.

Hanya ada dua tujuan perjalanan kita menuju akhirat, Syurga dan Neraka. Cahaya akan menuntun kita ketempat yang kita sama-sama inginkan yaitu Syurga. Karena dengan cahaya kita bisa melihat jalan menuju ke sana. Tetapi ketika kita tidak mendapatkan dan jauh dari cahaya itu maka kita akan tersesat menuju Neraka.

”Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Hadid:28)

Cahaya itu jangan dibiarkan meredup, meredup dengan banyaknya kemaksiatan yang kita lakukan. Meredup bersamaan dengan lemahnya keimanan kita yang ketika dibiarkan semakin turun kualitasnya. Ketahuilah Keimanan kita itu kadang naik dan kadang turun, Imam Al Ghazali menerangkan bahwa keimanan kita naik ketika kita dalam keta’atan kepada-Nya, dan keimanan kita turun ketika kita asyik terlena dengan kemaksiatan kepada-Nya.

Kembalilah kita kepada sumber cahaya itu yaitu Al Qur’an, dan berdoalah kepada Allah SWT untuk senantiasa diberikan kesempurnaan cahaya pada diri kita dan memohon ampun kepada-Nya. Mumpung kita masih diberi waktu.

”Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. As Syuura:52)

”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Qs. At-tahrim:8)


Wallahu a’lam bishshawab

silahkan kunjungi artikel* islamic semoga bermanfaat

http://tarbiahmoeslim.wordpress.com/